Selasa, 19 Januari 2016

Perjalanan Abdul Rahman

Dari lima ratus juta sel dalam setetes sperma yang memenuhi ruang rahim, hanya satu saja sel yang berhasil hidup dari terpaan zat asam dalam rahim. Satu sel itu kemudian menjadi benih, daging, tulang, dan nyawa. Jabang bayi itu kemudian mencari jalan keluar lewat vagina jika waktu kandungan si ibu telah sampai pada tahapannya. Nyawa itu siap menuju dunia berikutnya. Inilah yang disebut sebagai konsep kemenangan. Tiap-tiap manusia dilahirkan dengan bekal modal yang indah dari Tuhan: pemenang.

Konsep itu coba kuterjemahkan dari sebuah janin yang dikandung sembilan bulan lalu. Di mana awal diketahui keberadaan janin tersebut saat usia kandungan mencapai dua bulan. Sontak semua manusia yang hidup di luar janin tersebut bahagia. Menanti bulan ketiga, keempat, dan bulan-bulan berikutnya. Di dalam rahim, si janin berkembang mengikuti gerak kasih sayang Tuhan. Dari gumpalan darah yang hidup dalam rahim dengan denyut jantung yang aktif, ia
menyerap asupan nutrisi yang ditransfer ibu lewat tali plasenta. Dari gumpalan darah yang kecil ini, jabang bayi mulai berkembang tiap waktu ke waktunya.

Hingga dalam usia empat bulan kandungan, jabang bayi telah pandai menggunakan indera pendengarnya. Mulai meraba suara-suara yang datang dari luar sana. Menyerap kata-kata apapun, suara apapun, dan beragam bahasa apapun. Katakanlah ada sebagian masyarakat muslim yang tak percaya dengan the power of tahlil, tapi tentu tak bisa memungkiri akan the power of du'a bukan? Hentikanlah perdebatan akan hal-hal yang menguras energi, ambillah sisi positif dari suatu nasehat orangtua dulu. Jangankan tahlil dan bacaan Quran yang didengungkan pada usia kandungan jabang bayi mulai aktif mendengar, musik klasik yang terstruktur komposisinya pun sangat bermanfaat untuk kecerdasan otak bayi.

Tak heran rasanya jika Mozart begitu teliti dan detail dalam menyusun partitur musik klasiknya. Keseluruhan survei tentang musik Mozart vol 9 bahkan sepakat mengatakan, 9 dari 10 bayi yang didengarkan lagu Mozart saat dalam kandungan, sangat cerdas dalam matematika, kimia, fisika, hingga seni saat dewasanya. Tak heran, Mozart yang merupakan pemeluk Yahudi ini memang detail meneliti musik dan bagaimana menjadikan musik sebagai alat perangsang kecerdasan otak. Kini, lagu-lagu klasik Mozart telah dijadikan alat terapi bagi dunia kedokteran untuk kandungan-kandungan yang mengalami permasalahan. Lain Mozart, lain dengan Hitler. Himne Nazi yang populer di seantreo jagat dalam masa kepemimpinannya, menjadikan lagu ini seolah pembangkit propaganda Hitler. Mendengarnya seolah membangkitkan aura 'keserakahan' dan egoisme. Bayangkan jika aura negatif didengar oleh si jabang bayi, apa yang akan diterima oleh si jabang bayi soal dunia barunya kelak?

Harusnya kita umat muslim beruntung, kesempurnaan Al Quran tidak dapat disangkal lagi, tersaji di depan mata. Hikmahnya mengalir bagi tiap-tiap manusia yang serius mempelajarinya. Mozart yang tak luput dari lupa sebagai manusia, mampu menciptakan musik nomor satu di dunia. Sedangkan Al Quran yang langsung diturunkan dari Tuhan, kita masih disibukkan oleh perihal bid'ah dan ketakutan dalam arus tradisional. Padahal dalam fase pertumbuhan aktif indera pendengar, si jabang bayi 'haus' akan suara-suara. Ia mencoba raba, dunia apa yang bakal ia jalani kelak.

Empat bulan itu berlalu tanpa tahlil dan lainnya. Tapi sang ibunda tak pernah lepas membaca Al Quran. Ia hanya tak ingin masuk dalam arus tradisional. Hari berganti, usia kandungan makin berjalan. Si jabang bayi mulai mengeluarkan gerakan yang kuat. Menendang, memukul, hingga berputar perlahan mengikuti ritme usia yang telah dimilikinya. Ia terus ditansfer asupan gizi dari apa-apa yang dimakan ibunda. Membuang zat metabolisme yang tak berguna lewat tali plasenta. Tali ini bagiku, adalah satu-satunya tali multifungsi yang ajaib. Orisinal dari Tuhan. Bayangkan, dengan tali ini, si jabang bayi bisa makan, bernafas, hingga menransfer zat yang tidak diperlukannya ke luar rahim.

Menanjak usia sembilan bulan kandungan, ibunda mempersibuk diri mengecek kandungannya ke dokter. Ternyata, jabang bayi yang dikandungnya sungsang--tersesat mencari lubang vagina untuk keluar. Disarankan oleh orangtua agar si ibunda segera melakukan ceasar. Namun ibunda menolak, ia ingin melahirkan secara normal. Jika masih bisa berikhtiar normal, ia akan usahakan normal. Hari berikutnya, gerakan jabang bayi dalam kandungannya melemah. Puncaknya, tak ada pergerakan apapun esoknya. Ibunda tak mengambil curiga, ia percaya si jabang bayi tengah tidak aktif saja. Ibunda bersama suami pun pergi melakukan perjalanan Jakarta-Jati Luhur.

Dua hari kemudian, berita duka datang. Jabang bayi dikabarkan telah meninggal di dalam rahim sang ibu. Kantong transparan yang membungkus si bayi di dalam rahim pecah, hingga akhirnya air ketuban masuk dan terminum si bayi. Itulah yang menyebabkan jabang bayi tak bergerak dan melakukan aktifitas seperti biasanya. Ibunda kecewa, menangis sejadi-jadinya. Sembilan bulan dikandung, jabang bayi itu bahkan tak berniat mengeluarkan suara di alam dunia. Ia hanya dikeluarkan dari proses operasi caesar, untuk kemudian dibungkus kafan.

Innalillahi wa innailaihi rajiun.

Bayi ini diberi nama Abdul Rahman. Datang sebagai pemenang, dan pulang sebagai pemenang juga. Meninggalkan banyak pelajaran untuk orang yang hidup. Perjalanannya yang singkat, sangat berkesan bagiku. Di alam rahim, ia bergerak dengan lincah. Lalu dikeluarkan ke dunia, hanya sekadar menjemput kafannya. Dan kemudian, seperti tak kenal sopan santun, ia mendahului siapapun orang yang lebih tua darinya, untuk mencicipi liang lahad terlebih dahulu. Perjalanan yang terlihat singkat itu, bagiku adalah perjalanan penuh makna.

Keponakanku, Abdul Rahman, selamat jalan. Terima kasih sudah berjuang sampai dunia dan menjadi bagian dari keluarga kita.

With peace and love,
@sundakelapa90

Cibubur, 20 Januari 2016
Pukul 10.43 WIB

Kamis, 14 Januari 2016

Bom Sarinah? Kami Tidak Takut!

Meledaknya bom di depan Gedung Teater Jakarta, Sarinah, banyak menimbulkan respons di kalangan ahli dan masyarakat awam. Beragam respons itu salah satunya diumbar di sosial media sebagai medium tercepat dalam menyampaikan dan menyebar-luaskan informasi. Namun dibalik keramaian informasi soal #bomsarinah, terdapat informasi hoax yang bergerumul di dalamnya.

Terorisme bertujuan untuk menekan dan menebar ketakutan di kalangan masyarakat ataupun pemerintah. Membunuh satu atau segelintir orang, namun menebarkan efek ketakutan yang luar biasa di kalangan masyarakat. Takut adalah kunci kemenangan teroris. Informasi yang berkembang hoax terdiri dari banyaknya tempat-tempat lain yang dilanda bom di sekitaran Jakarta. Sekejap, sosial media gaduh. Antara takut dan kalut. Tak sedikit bahkan yang menggunakan hashtag save Jakarta.

Pertanyaannya, mengapa banyak sekali kabar hoax yang beredar di kalangan masyarakat maya? Mengapa bom myeledak di kawasan pemerintahan? Mengapa, dari jauh-jauh hari tepatnya tanggal 7 Januari 2015, pemerintah Amerika dan Australia menerapkan travel warning ke Indonesia bagi warga masyarakatnya? Mengapa BIN kecolongan soal bom ini? Dan mengapa, sasaran teroris kali ini adalah kawasan pemerintahan dan bukan menarget yang seperti biasanya: menyerang simbol-simbol 'Barat'?

Jibunan pertanyaan itu tentu tidak mudah dijawab dengan spontanitas saja, dibutuhkan kejelian dan pendalaman data. Namun yang ingin saya tekankan dalam tulisan ini bukanlah pertanyaan-pertanyaan bak adegab di film detektif itu, melainkan tentang kepercayaan diri dan keberanian. Kita memang harus berempati dan menaruh duka terhadap korban yang ada, namun kita tidak boleh tersungkur dalam jurang teror yang digariskan teroris untuk kita. Bangkitlah untuk melawan teror. Berjalanlah keluar rumah, beraktifitas seperti layaknya, dan jangan lupa untuk bahagia. Teroris itu sepertinya kurang piknik, jadi tidak bisa membedakan mana yang pantai dan mana yang pantat. Mana yang wangi angin mana yang bau tahi. Ah sudahlah...

Jangan lupa bahagia! #fightback #wearenotafraid #fuckterrorism

With peace and love,
@sundakelapa90

Jakarta, 14 Januari 2016
Pukul 15.22 WIB

Minggu, 10 Januari 2016

Tak Tersulut Konflik Saudi-Iran

EGP. Rasanya salah juga jika kita bersikap masa bodo dengan konflik Arab Saudi dengan Iran. Di permukaan atau yang diketahui masyarakat awam, konflik ini adalah konflik sunni-syiah. Garis lurus-sesat. Orang suci-orang laknat. Titik. Tapi tentu saja, pembahasan tentang konflik ini tidak boleh berhenti sampai kesimpulan itu. Bahwa ada permasalahan lain yang sebenarnya besar, namun tidak muncul ke permukaan. Ibarat kata, isu sunni-syiah bak penyedap rasa. Bahwa konflik Arab Saudi-Iran bisa 'sedap' karena isu tersebut. Karena penyedap rasa begitu membuai, kita hampir lupa pada bumbu dan komposisi dasar dalam konflik tersebut.

Ketegangan Arab Saudi-Iran semakin menjadi-jadi. Puncak meletusnya pada tanggal 2 Januari 2015 kemarin, saat Ulama Syiah berpengaruh yang cukup vokal terhadap rezim Saudi, Syeikh Nimr el-Nimr, dieksekusi mati oleh Pemerintah Arab Saudi. Iran sebagai negara dengan ideologi Syiah, jelas merespons keras tentang eksekusi ini. Kasus pembakaran kantor Kedutaan Besar dan Konsulat Arab Saudi di Teheran dan Mashad (Iran), menjadikan kedua negara makin bersitegang.

Arab Saudi yang notabene 'negara suci', mulai menggalang dukungan dari negara-negara teluk. Menggalang dukungan dari organisasi-organisasi Islam dunia. Menyebarkan propaganda anti-Iran. Bahrain bahkan telah memutus kerjasama dengan Iran dan melarang warganya untuk berwisata ke Iran. Sementara negara-negara teluk yang kaya, telah memanggil duta besarnya dari Teheran tanpa proses diplomatik. Oman bahkan mengecam keras pembakaran kantor Kedubes dan Konsulat Arab Saudi di Iran itu. Sementara Iran adalah Iran. Tetap 'cool' dengan perlakuan tak adil dari negara-negara Arab lainnya. Perlu dicatat, Iran rasanya sudah terbiasa hidup mandiri. Ketegangannya dengan Amerika hingga membuat Iran diembargo, tak jadi masalah berarti untuk negara itu. Namun bukan berarti, negara ini tanpa cacat ya.

Hukum dalam negeri suatu negara memang tidak boleh dicampuri oleh pemerintah dari negara lain. Kasus eksekusi mati Syeikh Nimr el-Nimr oleh Pemerintah Arab Saudi sah-sah saja dilakukan. Namun harus melihat tindak kejahatan yang dilakukan terdakwa. Sejauh ini, Syeikh Nimr el-Nimr terkenal vokal dengan rezim Saudi. Menolak sistem dinasti (otoritarian dan korup) yang diterapkan Saudi. Hal itu sering diucapkannya secara lantang dan keras di atas mimbar. Pertanyaannya, apakah dibenarkan mengeksekusi mati seorang warga karena mengajukan aspirasi? Jika iya, di Indonesia ini, tiap harinya pasti ada yang dieksekusi mati. Dari Jonru sampai mahasiswa abal yang hobi ngomong Jokodok di sosial media. Tapi hukum tidak menjegal aspirasi bukan? Hukum menghakimi tindakan yang salah. Kasus penangkapan teroris dengan ala koboi yang langsung tembak mati di tempat, juga tidak dibenarkan bukan? Itu yang terindikasi berbuat teror (ada tindakan yang berdampak besar mengancam kesatuan NKRI). Kalau aspirasi? Syeikh Nimr? Sudahlah...

Sayangnya, menanggapi kasus ini, beberapa ormas Islam di Indonesia yang hobi 'jualan' ayat poligami, justru vokal sekali membela Saudi. Usai Syeikh Nimr dieksekusi mati, langsung muncul biografi serta pemikiran Syiah Syeikh Nimr yang meruncingkan opini: Syeikh Nimr layak dieksekusi mati karena Syiah. Itu semua muncul berupa potongan-potongan video pidato Syeikh Nimr, foto, dan lain-lain. Sementara Iran, negara dengan minyak terbaik serta kekayaan alam dan manusianya, tak dibenarkan juga membakar kantor Kedubes dan Konsulat Arab Saudi. Hal itu jelas menciderai demokrasi dan relasi antar-negara. Dan terlebih, hal itu bukanlah menyelesaikan permasalahan yang ada.

Maka, antara konflik kedua negara ini, bagaimana posisi Indonesia mengambil sikap, pastilah ditunggu-tunggu. Tapi saya yakin benar, selagi masih ada NU dan Muhammadiyah, Indonesia tidak akan mau masuk dan tersulut api konflik tersebut. Seperti ciri khas Indonesia biasanya, negara ini selalu mengambil jalur tengah. Menjadi penengah sebisanya dan negara penebar kedamaian. Maka saran saya, jangan sering-sering baca media penebar kebencian. Karena selain membuat kusut otak, juga membuat anda hanya mengkonsumsi fitnah dan data abal.

With peace and love,
@sundakelapa90

Cibubur, 11 Januari 2016
Pukul 08.05 WIB

Sabtu, 09 Januari 2016

Gairah Studi Islam di Indonesia

Kesalahan orang Indonesia dalam menyelesaikan sebuah permasalahan adalah telat mengkaji. Alhasil, ketika masalah datang kita tidak memiliki resep jitu untuk menyelesaikan sebuah permasalahan. Kita lebih cenderung tertimpa masalah terlebih dulu, baru mencari formula penyelesaiannya. Hanya segelintir saja orang Indonesia yang mau mengkaji dan memahami akar permasalahan sehingga memiliki ancang-ancang dalam menyelesaikannya dan menjalankan gagasan brilian.

Lokomotif pembaruan dalam pemikiran Islam datang silih berganti dari generasi ke generasinya. Mewariskan banyak hal tentang keagamaan dan kebangsaan. Di era pra-Indonesia misalnya--jauh-jauh hari--seorang Kyai dari Jawa Timur begitu menggugah dengan membawa pemikiran yang paling modern dan moderat di zamannya. Siapa lagi kalau bukan Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asyari, Pendiri organisasi Islam terbesar di Indonesia Nahdlatul Ulama. Di zamannya, beliau tidak hanya berpikir tentang negara Islam untuk Nusantara (negeri yang dijajah oleh Belanda--kafir). Tidak seperti kyai-kyai seangkatannya yang geram dengan penjajahan seorang kafir Belanda dan lantas memicu mereka untuk berteriak lantang mendirikan negara Islam, KH. Hasyim Asyari justru berpikiran moderat dengan menggabungkan agama dengan nasionalisme. Mengeluarkan fatwa bahwa hukum membela Tanah Air bagi umat Islam adalah fardhu ain atau wajib bagi tiap-tiap individu.

Tak hanya itu, pemikiran beliau juga bisa dikatakan sangat jauh melompat ke depan. Tak hanya soal negara dan nasionalisme yang diwujudkannya dengan membela Tanah Air. Beliau juga fokus terhadap keperluan umat Islam dunia akan warisan peradaban Islam. Salah satunya dibuktikan ketika beliau membentuk sebuah komite yang diberangkatkan ke Saudi Arabia untuk menyuarakan aspirasi kepada Pemerintah Arab Saudi agar tidak memberangus situs-situs Islam, utamanya makam Nabi Muhammad SAW. Karena setelah rumah kelahiran Rasul dijadikan toilet umum, rumah tinggal Rasul bersama Sayyidah Khadijah digusur, rumah Assabiqunal-Awwalun digusur, makam para sahabat di Baqi diratakan, Pemerintah Arab Saudi berencana meratakan makam Nabi Muhammad. Di saat itulah KH. Hasyim Asyari memberangkatkan komite dari Indonesia untuk menyuarakan tiga aspirasi. Pertama, meminta pada Pemerintah Arab Saudi untuk menggilir imam Masjidil-Haram dan Masjid Nabawi kepada ulama-ulama dari negara-negara lain. Kedua, membiarkan seluruh umat Islam menunaikan ibadah haji dengan apapun latar belakang anutan mazhabnya. Ketiga, meminta Pemerintah Arab Saudi untuk tidak menggusur makam Nabi Muhammad. Dari ketiga aspirasi tersebut, hanya satu saja yang dikabulkan. Yaitu tidak menggusur makam Nabi Muhammad SAW. Perlu dicatat, hal ini dilakukan KH. Hasyim Asyari di saat Indonesia belum berdiri menjadi sebuah negara. Bahkan ketika itu, beliau belum mendirikan Nahdlatul Ulama. Jika bukan karena kecerdasan, keberanian, kepercayaan diri, dan dakwah, KH. Hasyim Asyari musykil mewujudkan perjuangannya dalam mempertahankan situs yang sangat suci dan bersejarah seperti makam Nabi Muhammad.
Gagasan dan pemikiran beliau telah kita nikmati hingga hari ini. Pemikiran beliau yang masih relevan, banyak kita rasakan manfaatnya untuk Indonesia yang hakiki. Saya yakin benar, seperti KH. Ahmad Dahlan yang mendirikan Muhammadiyah dengan misi Islam reformis dan banyak dimusuhi oleh kyai-kyai abangan di zamannya, KH. Hasyim Asyari pun bukan tidak mungkin mendapatkan cemoohan dari kyai-kyai yang bersebrangan pemikiran dengannya. Tapi hal itu (pemikiran KH. Hasyim Asyari) justru begitu nyata dampaknya untuk kelangsungan hidup berbangsa dan beragama hingga kini.

Tokoh pembaruan datang lagi. Saya bisa katakan bahwa inilah golden age-nya pemikiran Islam inklusif yang moderat. Pemikiran dan gagasan Islam yang baru, muncul pada generasi yang bersamaan dengan beberapa tokoh pembaharunya. Sebut saja Gus Dur dan Nurcholis Madjid yang banyak menelurkan semangat persatuan, kebangsaan, pluralisme, dan Islam yang moderat. Maka tak heran jika kini, semakin banyak tokoh Islam yang sangat vokal dalam mengkaji Islam dan mengamalkannya dengan baik. Seperti Azyumardi Azra yang mampu mengubah citra Universitas Islam Negeri (UIN) sebagai universitas Islam yang mampu berdampingan dengan disiplin ilmu umum atau non-agama. Kemudian Komarudin Hidayat, Ulil Abshar Abdala, Zuhairi Misrawi, dan masih banyak lagi tokoh-tokoh Islam yang produktif menelurkan karya dan gemar mengkaji-meneliti. Katakanlah mereka sedikit banyak berbeda pemahaman akan satu atau banyak permasalahan, tapi semangat mereka sebenarnya satu: kebangsaan dan Islam yang damai.

Geliat dan semangat mengkaji Islam akhirnya pun banyak disalahgunakan oleh berbagai oknum dan kepentingan. Seperti yang datang dari kalangan tarbiyah yang menginginkan konstitusi Islam diterapkan dalam lingkup negara Indonesia. Inilah yang coba diperjuangkan kalangan tarbiyah lewat jalur politiknya: Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Kalangan tarbiyah sebenarnya kebanyakan berasal dari sarjana lulusan Mesir yang banyak mengkaji buku-buku Ikhwanul Muslimin Mesir. Pemahaman mereka akan konstitusi Ikhwanul Muslimin itulah yang kemudian coba diperjuangkan untuk diterapkan di Indonesia. Hal itu coba diperjuangkan lewat jalur politik dengan kendaraan parpolnya: Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Sayangnya, kalangan tarbiyah boleh dikatakan gagal mndekati kalangan UIN. Kenapa? Karena Islam memang menjadi bahan kajian di UIN, sehingga sedikit banyak mereka tidak mudah terpengaruh arus yang datang dengan iming-iming konstitusi Islam. Beda halnya dengan kampus-kampus umum yang tidak mempelajari Islam secara dalam seperti IPB, UI, dan ITB. Maka ketika datang satu guru atau ustaz membawa konsep tarbiyah, mereka menerima dengan mentah. Maka tak heran jika banyak dari kalangan tarbiyah yang pemikirannya cenderung keras dan menganggap diri paling lurus.

Beda lagi dengan gerakan Hizbut Tahrir Indonesia. Dari namanya, kita harusnya tahu bahwa gerakan ini adalah gerakan pembebasan, tahrir. Gerakan ini lahir di Palestina sebagai bentuk perjuangan terhadap kemerdekaan Palestina dari Israel. Namun, seiring pergantian kepengurusan, Hizbut Tahrir justru melenceng dari misi utamanya. Yang terdengar jelas justru rencana mendirikan Khilafah Islamiyah di negara-negara berpenduduk muslim. Gaung untuk memperjuangkan kemerdekaan Palestina justru lenyap. Kandas entah ke mana.

Kemudian gerakan yang lebih radikal, datang dan hampir lenyap seperti Al-Qaeda dengan pemimpinnya yang vokal ketika itu, Osama bin Laden. Agenda besar Al-Qaeda adalah melenyapkan Amerika dan kaum kafir lainnya dengan cara-cara yang sangat radikal. Namun saat ini, yang lebih menyeramkan radikalnya adalah Islamic State of Iraq and Suriah (ISIS). Kekejaman ISIS sangat gila dan konyol. Membunuh seluruh agama, kelompok, atau apapun yang bersebrangan dengannya. Dan agenda jarak dekat ISIS adalah menjadikan Indonesia sebagai wilayah kekuasaannya pada tahun 2017. Perlu diingat, Indonesia sudah 'menyumbang' warganya bergabung ke ISIS sebanyak 800 orang. Sementara warga negara-negara lain yang bergabung sudah banyak juga. Arab Saudi sebanyak 2.600 orang, Eropa 700, negara-negara Timur Tengah simpang siur dalam memberikan data konkretnya. Dan hasil survey pernah menyatakan bahwa empat persen dari masyarakat muslim dunia, setuju akan hadirnya ISIS di dunia.

Gerakan-gerakan radikal, baik yang kecil maupun besar masuk lewat jalur bawah tanah. Bergerilya lewat jalur kedap suara. Memanfaatkan masjid, dan memasuki area kosong dari pengkajian Islam. Membuat media-media penebar kebencian. Membenci ulama NU dan Muhammadiyah, memutarbalikkan logika, dan sering sekali memanipulasi data. Maka jangan heran jika banyak mahasiswa-mahasiswa dari kampus umum yang kini tampil diri dan berteriak lantang memperjuangkan Khilafah Islamiyah, bukan justru dari kampus UIN. Bahkan tak sedikit dari kalangan UIN yang dituduh sesat dan menyesatkan.

Gairah studi Islam haruslah kita kuatkan kembali. Membuka ruang dialog yang transparan agar konsep kebangsaan dan nasionalisme yang digagas oleh para ulama Indonesia terdahulu tidak sia-sia. Kita tidak bisa memaksakan bibit kurma tumbuh subur di tanah Indonesia. Karena kurma hanya akan tumbuh di padang pasir. Tapi kita bisa memiliki buah yang manis dan nikmat layaknya kurma. Seperti durian, semangka, jeruk, apel, dan lainnya. Maka, marilah kita tanam yang kita punya untuk meraih kemanisan yang dapat kita nikmati sendiri dan juga untuk diekspor ke negara lain. Satu hal yang saya dapat dari hikmah memakan buah adalah: dapat membantu kecerdasan berpikir dan kesehatan tubuh. Maka, marilah kita mulai mengkaji agar tidak terlambat dalam menyelesaikan masalah. Mari kita sukseskan formula jitu yang digagas NU dan Muhammadiyah akan semboyan Islam Nusantara.

With peace and love,
@sundakelapa90

Cibubur, 10 Januari 2016
Pukul 08.31 WIB

Jumat, 08 Januari 2016

Esensi Shalat dalam Kehidupan

Shalat adalah sebuah gerakan tertentu sebagai simbol umat muslim menyembah Tuhannya. Shalat secara harfiah bermakna doa. Secara filosofis, makna shalat tak lebih dahsyat dari makna harfiahnya.

Shalat dimulai dari niat dan takbiratul-ihram lalu diakhiri dengan taslim atau salam. Takbiratul-ihram sendiri secara harfiah berarti menegakkan takbir sambil meninggalkan perbuatan yang diharamkan dalam shalat. Seperti makan, minum, buang angin, tidur, dan lainnya. Di sini, penting sekali memfokuskan pikiran kepada Allah semata. Diharamkan kepada orang yang shalat ketika telah berkomitmen ber-takbiratul-ihram, memikirkan perbuatan dan niat-niat terlarang. Di sinilah, meditasi utama dalam shalat benar-benar harus murni untuk Allah saja. Fokus, menghambakan diri kepada Tuhan.

Menarik disimak mengapa dalam ajaran Islam, Allah tidak memerintahkan shalat dengan redaksi 'kerjakanlah shalat', tapi Allah menggunakan redaksi yang sangat kuat yaitu 'dirikanlah shalat'. Di sini jelas terdapat perbedaan yang cukup jauh antara keduanya. Jika hanya mengerjakan shalat, berarti Allah hanya menyuruh pribadi diri seorang hamba saja. Shalat dan selesai. Tapi jika mendirikan shalat, Allah memerintahkan umatnya untuk menyebarluaskan esensi shalat. Tidak hanya untuk pribadi diri, tapi untuk seluas-luasnya umat.

Dalam takbiratul-ihram, selain diwajibkan memfokuskan pikiran, meninggikan tauhid disimbolkan dengan mengucap Allahu Akbar. Dengan membaca ini, sebagai hamba Allah, kita bersimpuh dan yakin bahwa manusia, bumi, dan segala ciptaan Allah adalah kecil. Tiada daya dan upaya tanpa kuasa dari Yang Maha Besar.

Kemudian, setelah mengucap Allahu Akbar, kedua tangan menelungkup di antara perut dan dada. Ini merupakan ajaran dari Mazhab Imam Syafii. Mazhab Syafii merupakan mazhab washati, atau yang mengambil jalur tengah-tengah dalam memutus sebuah perkara. Dalam hal gerakan shalat ini, makna filosofis dari gerakan Mazhab Syafii dengan menelungkupkan kedua tangan di antara dada dan perut adalah sebagai sebuah keseimbangan. Ketenangan setelah mendapat meditasi utama dalam takbiratul-ihram, terdapat dalam hati dan dada. Selanjutnya, persembahkan ketenangan itu hanya kepada Allah. Mulailah bercumbu denganNya.

Perbedaan gerakan shalat antara Imam Syafii dan ketiga Imam lainnya adalah hal yang biasa saja. Mazhab lainnya bisa menelungkupkan kedua tangannya di tempat berbeda. Bisa di atas dada, di atas perut (bahkan sedikit condong ke bawah), dan lainnya. Mengapa terdapat perbedaan dalam gerakan shalat pada tiap mazhab? Apakah boleh berbeda dalam hal tersebut? Jawabannya, tentu saja boleh. Mengapa? Karena gerakan shalat itu bukan hal prinsipil yang tidak bisa diperdebatkan. Beda halnya dengan nilai prinsipil seperti mempertanyakan keesaan Tuhan. Hal prinsipil ini, jelas tidak boleh diperdebatkan karena sudah final dan sangat logis. Kecuali jika anda ateis, lebih baik anda pikirkan ulang untuk membaca artikel ini.

Setelah itu, dilanjutkan dengan membaca Al-Fatihah. Surat wajib yang harus dibaca pada tiap-tiap shalat. Baik shalat fardhu maupun shalat sunnah. Mengapa harus surat Al-Fatihah? Karena memang Rasulullah mengajarkan begitu. Lalu mengapa Rasul mengajarkan begitu? Kenapa surat Al-Fatihah begitu istimewa. Ya, karena surat Al-Fatihah adalah ibunya Al-Quran. Banyak sekali julukan untuk surat ini karena keistimewaannya. Boleh dikatakan, surat ini adalah surat yang komplit. Berbicara tentang tauhid, kasih sayang Tuhan, kuasa Tuhan, sosial, doa hingga harapan. Kemudian usai membaca surat Al-Fatihah dalam shalat, dilanjutkan dengan mengucap amin. Ini sebagai simbol harapan agar doa kita dikabulkan Allah. Ingat, Allah selalu mendengar tiap-tiap hati umatNya. Apalagi doa yang terucap tulus di saat shalat?

Kemudian gerakan rukuk. Rukuk adalah gerakan membengkokkan badan membentuk huruf L terbalik sambil mengucap bacaan rukuk. Secara filosofis, gerakan rukuk adalah proses menuju kehambaan kita kepada Allah secara simbolis. Rukuk, menunduk, dan membungkuk hanya kepada satu zat saja. Yakni Allah semata. Tidak boleh membungkuk kepada zat lainnya. Ini secara tidak langsung mengajarkan kita arti pentingnya kepercayaan diri. Menganggap diri mampu bersaing dengan manusia lainnya dalam hal kebaikan. Namun bukan untuk menampilkan diri untuk berbangga. Karena kita telah tahu bahwa, diri yang penuh percaya diri ini ternyata masih membungkuk di hadapan Allah. Itulah sejatinya kita: seorang hamba.

Setelah rukuk sebagai simbol kepercayaan diri dan kehambaan kepada Allah, kita bangkit i'tidal dan mengucap bacaannya. Menarik disimak bahwa dalam bacaan i'tidal ini, kita melafazkan kepercayaan yang sangat tinggi kepada Allah. Bahwa Allah mendengar tiap hambanya yang memujiNya. Ini berarti Allah menyukai pujian dari hambaNya. Tapi perlu dicatat bahwa pujian ini diucapkan secara tulus. Bukan doktrin tentang keesaan Allah semata. Ingat, dari takbiratul-ihram kita diwajibkan berfokus kepada Allah semata.

Lalu dilanjutkan dengan gerakan sujud. Simbol kehambaan total kepada Allah. Sambil membaca bacaan sujud, ada beberapa bacaan sunnah yang boleh dibaca saat sujud. Ini bagus dilakukan, yang penting niatnya adalah untuk menyembah Allah. Memurnikan hati untuk terus bercumbu dalam shalat. Gerakan selanjutnya seperti duduk di antata dua sujud pun merupakan doa dan harapan kita sebagai seorang hamba. Kepada Allah, kita mengadu. Mengadu akan zat yang lemah ini untuk dikuatkan. Diangkat derajat, dikaruniakan rezeki, dan lainnya. Kemudian sujud lagi, dan tahiyat.

Filosofi yang dapat ditarik dari gerakan berdiri, rukuk, sujud, bangun, dan sujud lagi adalah sebuah perjuangan. Perjuangan hidup manusia yang tak pernah mulus. Diwarnai dengan susah-senang. Cobaan dan tantangan. Namun dalam menempuh semua perjuangan itu, manusia sejatinya membutuhkan keseimbangan. Kepada Tuhan, manusia bersujud. Meminta perlindungan. Memohon yang baik-baik. Meminta dijauhkan dari yang jahat.

Terakhir, adalah gerakan taslim atau salam. Mengucapkan salam ke kanan dan kiri. Simbol sosial dicirikan dengan melihat ke sekitar. Bahwa sejatinya, Tuhan ingin menuntun umat akan pentingnya menengok sekitar. Berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya. Menebar rahmatan yang lil-alamin. Untuk semesta, begitulah harusnya umat Islam menjadi. Esensi shalat, marilah kita praktikan untuk diri dan sekitar.

With peace and love,
@sundakelapa90

Cibubur, 8 Januari 2016
Pukul 19.51 WIB

Selasa, 22 Desember 2015

Kesalehan Individual dan Sosial

Menarik disimak geliat semangat masyarakat muslim Indonesia berlomba dalam berlaku saleh. Dari sosial media saja, akun-akun dakwah yang jumlahnya bejibun laris manis disukai agar followers dapat mengikuti perkembangan dakwah yang disampaikan. Tak sedikit bahkan yang me-reshare kiriman dari akun-akun dakwah tadi. Dari dunia sosial nyata, masjid pada kenyataannya telah ramai. Baik digunakan sebagai keperluan jamaah, mengaji, hingga tren baru-baru ini: itikaf. Belum lagi tren berumrah dan haji yang gairahnya tak pernah putus. Hal itu sedikit banyak didukung dengan banyaknya penerbangan murah serta inovasi kebijakan penerbitan visa oleh pemerintah Arab Saudi. Kebijakan visa itu salah satu yang menjadi primadona bagi kalangan usaha travel dalam menggenjot umat muslim Indonesia untuk berangkat ke Tanah Suci. Tak peduli untuk satu, dua, tiga, atau berkali-kali umrah dan haji sekalipun.

Namun sayangnya, kesalehan individual ini justru tak berimbang dengan kesalehan sosial masyarakat muslim Indonesia. Kesalehan sosial seperti berkreasi, membangun relasi muslim-non muslim, menggagas riset untuk keperluan jangka panjang, mempertajam olah pikir, hingga ikut serta dalam kompetisi teknologi dan sains global nyatanya masih belum banyak dikerjakan oleh masyarakat muslim Indonesia. Gerakan lembaga amal dan zakat yang ada pun belum banyak yang berorientasi pada pemberdayaan umat, tapi hanya memberi solusi jangka pendek yang kurang solutif. Maka tak heran, lembaga amal dan zakat ramai diartikan oleh masyarakat Indonesia sebagai lahan amal ketika hari-hari besar Islam saja. Lagi-lagi, kesalehan individual lebih menonjol di sini.

Kesalehan individual yang tidak dibarengi dengan kesalehan sosial sedikit banyak akan menutup ruang pemikiran. Umat cenderung konservatif dalam mengartikan baku suatu permasalahan. Tak sedikit bahkan, pergerakan dari kesalehan individual pun dimanfaatkan oleh kelompok politik. Menjadikan ranah kesalehan individual mau tak mau dicekoki satu kepentingan politik tertentu dan mendiskreditkan yang lain.

Antara kesalehan individual dan sosial, sebenarnya adalah interpretasi dari ajaran Islam berupa hablu mina-Allah wa hablu min an-nas. Menarik disimak mengenai konsep ini dalam salat. Di mana pada takbiratul ihram, konsep hablu mina-Allah disimbolkan dengan mengucap Allahu Akbar. Sementara di penghujung gerakan salat, terdapat gerakan salam yang menengok ke kanan dan kiri. Sebuah simbol akan pentingnya kepedulian sosial atau relasi manusia dan sekitarnya (hablu min an-nas). Jadi secara filosofis, gerakan salat merupakan simbol dari pentingnya memupuk tauhid (hablu mina-Allah) dan bertindak untuk sekitar (hablu min an-nas). Bahkan Islam menganjurkan, seorang muslim adalah seseorang yang dapat merasakan kepedihan dan kesulitan orang lain. Namun apa jadinya jika kita hanya berlomba memupuk kesalehan individual saja? Pentingnya kesalehan sosial juga harus ditekan agar menimbulkan efek jangka panjang dalam kelangsungan umat. Maka sudah saatnya kita untuk bergerak, namun jangan lagi bergerak dalam konsep yang jangka pendek.

Misalnya, menyantuni anak yatim dengan memberikan sejumlah uang di hari-hari besar Islam atau hari lainnya tanpa orientasi jelas akan digunakan apa uang itu, adalah sebuah solusi yang keliru. Namun jika uang amal dan zakat yang diperuntukkan anak yatim dikelola dengan baik sebagai pendidikan, pengembangan skil, hingga dana riset yang dilakukan anak-anak yatim, maka ke depan umat muslim Indonesia akan kuat dan memiliki jiwa yang kompeten. Dari yatim-yatim yang diberdayakan dengan baik oleh umat, bukan tidak mungkin kelak akan muncul sosok ilmuwan yang menguasai tafsir Al Quran tanpa mengesampingkan relasi dengan umat beragama lainnya.

With peace and love,
@sundakelapa90

Cibubur, 23 Desember 2015
Pukul 08.13 WIB

Sabtu, 19 Desember 2015

Antara Pesona dan Makna Kawah Ijen (Part 2)

Mimpikah aku ini? Mimpikah?

Manusia macam apa yang mampu membawa beban 80 kilo sambil turun-naik gunung? Mimpikah aku? Tidak! Kupastikan diriku bahwa aku sama sekali tidak bermimpi. Aku melihat mereka--para penambang belerang Kawah Ijen--memikul belerang seberat 80 kilo turun-naik gunung. Sebelum fajar tiba, hal inilah yang kujumpai begitu tiba di Puncak Ijen. Kalau saja aku punya riwayat penyakit jantung, mungkin aku harus di-opname karena kekagetanku terhadap para penambang belerang yang luar biasa ini.

Seusai mengambil gambar, My Special One menunjuk ke arah kawah yang masih terbilang gelap, namun tidak pekat. Di sana--meski samar--terlihat  sisa-sisa blue fire yang padam berkat perpindahan cahaya matahari yang berjalan perlahan menghampiri Ijen, mengisyaratkan pagi. Dia mengajakku untuk menuruni kawah karena melihat banyak para pendaki yang juga turun ke kawah. Tapi aku? Tak tahukah My Special One itu tentang kakiku? Andai Go-Jek beroperasi di Puncak Ijen, aku akan memesan layanan antar paket untuk memaketkan My Special One ini ke negeri antah-berantah. Teganya ia...

Akhirnya, dengan kaki yang separuh bernyawa, aku dan dia berjalan turun ke bawah. Selang tak lama berjalan, kami melihat Tjen dan Han yang tengah asik mengambil foto dengan kamera DSLR-nya. Aku bertanya hal yang jawabannya sudah kuraba kepastiannya, tentang apakah mereka sempat menyaksikan blue fire atau tidak. Dengan senyum puas mereka menjawab iya. Tentu, itu merobek hatiku. Tapi, biarlah, toh aku masih bisa melihat blue fire di kompor gas rumah milik ibuku (menghibur diri). Dan mereka juga mengatakan bahwa mereka baru selesai dari pusat kawah. Kesimpulanku tentang mereka: mereka siluman yang menguasai ilmu menghilang dan berpindah dengan cepat.

Langkah demi langkah tiba-tiba aku bersemangat, entah kenapa. Padahal awalnya aku mengeluh tak kuat berjalan turun menelusuri bebatuan untuk mencapai kawah, bukan My Special One. Tapi kali ini dia justru yang kehilangan gairah--bukan semangat--untuk turun ke pusat kawah. Entah, mungkin karena aku terlalu bersemangat dengan pusat kawah, akhirnya dia menurut juga ikut mauku.

Kami berjalan, memilah-milah dataran yang sedikit bagus untuk ditapakkan oleh telapak kaki kami. Kontur dataran yang berbatu membuat kaki bagai diberi pijat refleksi gratis yang menyakitkan. Kupikir tadinya, saat melihat dari atas puncak, pusat kawah cukup dekat dan aku tak masalah berjalan untuk mencapainya. Tapi setelah kujalani, ternyata untuk mencapai pusat kawah, jalan berbatu dan berkelak-kelok amat menguras energi. Aku kembali mengeluh, tenggorokanku kembali tercekat. My Special One ternyata lebih lamban sedikit dariku sambil mengusap peluh (akhirnya aku menemukan tanda-tanda manusia pada dirinya. Dia kelelahan juga!). Tapi kami terus berjalan, berjalan, dan berjalan menuju hamparan ciptaan Tuhan yang tersaji di depan mata.

Setelah berpeluh, akhirnya kami sampai di pusat kawah. Dari sini, kami melihat jelas asap belerang menutup seluruh tubuh para penambang. Mereka para penambang, melawan terpaan asap belerang dan kemudian mencungkil belerang yang mengeras dengan linggis secara hati-hati. Bau belerang yang begitu pekat, membuatku enggan untuk melepas masker. Tapi, oh seribu tapi, tak sedikit dari para penambang yang tak menggunakan masker! Aku heran, kaget, takjub, sekaligus marah. Mengapa? Masker adalah benda yang paling mendasar sebagai penunjang kelancaran kerja para penambang, tapi mengapa masih banyak para penambang yang mengabaikannya? Apakah karena mereka sudah terbiasa dengan medan dan kondisi ini? Katakanlah iya, tapi tubuh tetaplah tubuh. Seberapa kuat dan lama tubuh mereka menghirup bau belerang, manusia kadang sulit untuk memprediksinya, bukan? Melihat itu, aku tak dapat berkata-kata lagi kecuali doa dalam hati akan keselamatan para penambang.

Belerang, kawah, penambang, dan turisme. Apa? Apa yang membuat manusia dan alam ini bertemu dalam satu tempat dengan misi yang berbeda? Belerang dan kawah adalah identitas Sang Ijen, begitulah statusnya kuat. Sementara penambang belerang mendaki dan turun Ijen demi menyambung nyawa dan mungkin menyambung cita-cita. Lalu kami para turis? Apa yang kami lalukan di sini? Menikmati keindahan alam? Membuktikan diri sebagai anak gunung? Mencari eksotisme pegunungan? Atau mensyukuri ciptaan Tuhan? Kami berbeda misi meski berada bersama dalam satu waktu dan tempat. Turis menyapa penambang, penambang mencungkil belerang. Turis memotret segala objek yang baginya menarik. Manusia, alam, dan mungkin juga tentang kedamaian. Sementara penambang mencoba mencari tambahan sampingan--mengukir belerang menjadi cinderamata sederhana, namun jika tidak berhasil menjajakannya, terpaksa kembali pada profesi utama--memikul 80 kilo belerang naik turun Ijen. Kami berinteraksi, saling berburu kebutuhan masing-masing. Tegur dan sapa antara Ijen, penambang, dan turis dalam seketika akan berakhir. Turun gunung, semua turis kembali ke jeep, sementara penambang akan bertemu lagi dengan turis-turis lainnya. Senyum sapa tadi, berakhir. Seperti tak pernah ada. Secuil ingatan mungkin yang tersisa: Ijen begitu indah.

Ah, aku tak pernah menemukan jawaban atas pertanyaanku: mengapa alam, penambang, dan turis bersua dalam satu waktu dengan misi yang berbeda? Biarlah. Bukankah tak semua pertanyaan membutuhkan jawaban. Dan tidak semua jawaban dari pertanyaan adalah tentang kebenaran.

Kami mulai menanjak ke arah puncak untuk kembali turun ke kaki gunung. Tiap turis yang melihat penambang mendaki sambil memikul 80 kilo belerang, dengan cepat dan sigap langsung memberi jalan mempersilakan lewat terlebih dulu. Begitu dengan turis lain, kami pun begitu. Rasanya, melihat otot-otot keras di bahu para penambang yang memikul 80 kilo belerang, membuat pertanyaan lain dari kekagetanku di awal melihat penambang memikul 80 kilo belerang tak bisa dibendung. Akhirnya, kuberanikan diri untuk bertanya dan berbincang kepada para penambang. Kukatakan pertanyaan-pertanyaan mendasar mulai kapan dan berapa kali naik-turun Ijen untuk menambang. Jawaban mereka beragam, ada yang memulainya sejak usia belia, ada juga yang memulainya ketika tidak ada lagi pilihan pekerjaan lain. Namun, umumnya penambang hampir sepakat menjawab, dalam sehari mereka bisa naik-turun Ijen sebanyak 2-3 kali dengan total penghasilan maksimum 150.000 rupiah!

Aku tak habis pikir. Pekerjaan yang menguras tenaga dan mengundang maut ini hanya menghasilkan beberapa receh rupiah. Salah satu penambang bahkan sempat mengatakan padaku tidak tahan dengan bau belerang yang menyengat. Dari semua cerita mereka, akhirnya aku berkesimpulan untuk sedikit membuka perspektif mereka akan rezeki. Kesimpulanku itu kusampaikan: mengapa tidak mencari pekerjaan lain?

Jawaban salah satu penambang membuatku bungkam. Aku merasa konyol dan malu telah berkata demikian. Sambil menghapus peluh, salah satu penambang menjawab bahwa profesi sebagai penambang adalah profesi terbaik saat itu yang didapatnya. Dengan pekerjaan itu, katanya, adalah satu-satunya cara bagi mereka bisa mendapatkan rupiah besar tiap harinya. Bagi mereka, 150.000 untuk naik-turun Ijen sambil memikul 80 kilo belerang adalah nikmat yang tak terhingga. Karena dengan itu, mereka bisa mendapatkan rupiah besar. 150.000 rupiah dibawa pulang. Itulah rupiah besar mereka. Dan mereka menikmatinya.

Seketika, aku mengutuki diriku. Aku yang menghasilkan 250.000 rupiah lebih dalam sehari berkat satu atau dua tulisan reportase, bahkan hampir tak pandai dalam merepresentasikan syukur. Tapi penambang ini, penambang yang memikul 80 kilo belerang ini, mensyukuri nikmat rupiah besar yang diperolehnya berkat menjual tenaga. Tenaga yang bahkan mereka tak tahu kapan limitnya akan habis. Ya, lagi lagi aku ditampar. Di sini, kuucapkan lagi sekeras-kerasnya di hati: fabiayyi ala'i Rabbikuma tukaziban.

Bersama sejuta pelajaran yang Ijen beri, aku bersyukur tiada henti. Dengan syukur ini, kuturuni Ijen dengan hati bangga. Lihatlah, My Special One tertinggal jauh di belakang. Dia bahkan mengeluh, merintih lelah, dan tak kuat menahan beban tubuhnya yang menuruni gunung. Kali ini, dengan manusia ini, rasa-rasanya tak ada salahnya aku merasa bangga sendiri karena perkasa dalam jalan turun dari Ijen. Tapi tahukah, meski manusia ini sedikit banyak menyebalkan, entah mengapa aku rela merangkulnya. Membantunya untuk melangkah turun dari Ijen, hingga mencarikan batang kayu sebagai tongkat pembantu langkahnya.

Ah, Ijen juga memberi pelajaran lain padaku dalam menyayanginya. Terima kasih telah menemaniku, My Special One. Terima kasih juga untuk para pembaca.

With peace and love,
@sundakelapa90

Cibubur, 19 Desember 2015
Pukul 20.21 WIB